Kuasa Simbolik Tokoh Blater Dalam Kontestasi Politik Lokal Di Madura: Studi Kasus Strategi Komunikasi Politik Pilkada Bangkalan 2024

Penulis

  • Moh Nurul Jadid Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
  • Jupriono Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
  • Dey Prayogo Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.30649/psr.v4i2.187

Kata Kunci:

Symbolic powe, blater, political communication, regional election, Madura

Abstrak

Penelitian ini menganalisis kekuatan simbolis figur blater dalam strategi komunikasi politik selama Pemilihan Kepala Daerah Bangkalan 2024, khususnya meneliti bagaimana aktor informal menggalang dukungan pemilih meskipun minim dukungan institusional. Studi kasus kualitatif ini menggunakan wawancara mendalam dengan empat informan kunci (figur blater, kepala desa, pengamat politik, dan anggota masyarakat) serta pengamatan partisipatif di ruang sosial informal. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan triangulasi untuk validitas. Kekuatan simbolis blater dibangun melalui akumulasi modal sosial (jaringan lintas kelas yang luas), modal budaya (penguasaan nilai-nilai ajhâgâ dan tengka), dan modal ekonomi (kedermawanan tanpa pamrih), yang dikonversi menjadi modal simbolis. Komunikasi politik mereka beroperasi secara implisit melalui ruang informal (sandur, to'otok) dengan pesan sederhana seperti “tang oreng” yang efektif karena legitimasi moral jangka panjang. Pasangan calon nomor 2, didukung oleh hanya tiga partai non-parlemen, memperoleh 39,8% suara, mendekati 60,2% suara pasangan nomor 1 yang didukung oleh 12 partai besar. Batasan/implikasi: Studi ini terbatas pada Kabupaten Bangkalan, yang dapat memengaruhi generalisasi. Penelitian masa depan dapat mengeksplorasi dinamika perbandingan di wilayah Madura atau Indonesia lain dengan budaya kehormatan serupa. Partai politik sebaiknya melibatkan pemimpin komunitas informal untuk meningkatkan kepercayaan dan mobilisasi pemilih. Strategi kampanye sebaiknya mengintegrasikan nilai-nilai lokal daripada mengandalkan struktur institusional formal. Penelitian ini berkontribusi pada teori kekuatan simbolik Bourdieu dengan menunjukkan aplikasinya dalam budaya kehormatan non-Barat, mengungkapkan bahwa legitimasi moral dapat lebih efektif daripada struktur partai formal dalam mobilisasi pemilih.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Aspinall, E., & Berenschot, W. (2019). Democracy for sale: Elections, clientelism, and the state in Indonesia. Cornell University Press.

Azhar, I. N., & Surokim (Eds.). (2018). Madura 2020: Membumikan Madura menuju globalisasi. Inteligensia Media. ISBN: 978-602-5562-21-1.

Bourdieu, P. (1991). Language and symbolic power. Harvard University Press.

Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. Anchor Books.

Gramsci, A. (1971). Selections from the prison notebooks. International Publishers.

Mead, G. H. (1934). Mind, self, and society. University of Chicago Press.

Mennet, R. (2011). Political communication: A critical introduction. SAGE Publications.

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative data analysis: An expanded sourcebook (2nd ed.). SAGE Publications.

Nimmo, D. (2005). Political communication: A critical introduction. SAGE Publications.

Sugiyono. (2021). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D (Alfabeta, Ed. 27). Alfabeta.

Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. In J. Richardson (Ed.), Handbook of theory and research for the sociology of education (pp. 241-258). Greenwood Press.

Aspinall, E. (2013). Clientelism and electoral politics in Indonesia: A case study. Asian Survey, 53(4), 763-786.

Fauzi, M. (2022). Strategi mobilisasi politik kultural dalam pemilu di Madura. Jurnal Politik Indonesia, 5(3), 123-135.

Hidayaturrahman, M., Muhammad, N. S., Tini, D. L. R., & Ubaid, A. H. (2023). Blater’s power in local politics: Village head election in Madura. Jurnal Inovasi Ilmu Sosial dan Politik (JISoP), 5(2), 163–170.

Lind, A. (2016). Ritual communication in political processes: Emotions and participation. Journal of Political Communication, 33(4), 601-619.

Prasetya, R. (2023). Relasi patron-klien dalam pemilihan umum di Madura: Studi kasus di Bangkalan. Jurnal Analisis Sosial, 11(2), 150-162.

Wahyudi, F. (2012). Symbols of political communication in local culture. Jurnal Politik, 11(2), 78-89.

Hidayat, M. N. (2024). Perilaku kiai dalam politik di Pamekasan Madura: Studi kasus Pilkada Pamekasan 2018 (Skripsi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta).

Diterbitkan

2025-09-30

Cara Mengutip

Jadid, M. N. ., Jupriono, & Dey Prayogo. (2025). Kuasa Simbolik Tokoh Blater Dalam Kontestasi Politik Lokal Di Madura: Studi Kasus Strategi Komunikasi Politik Pilkada Bangkalan 2024. Public Sphere Review, 4(2), 168–176. https://doi.org/10.30649/psr.v4i2.187

Terbitan

Bagian

Articles